UG

UG

Kamis, 25 Desember 2014

PENGANTAR MANAJEMAN



PENDELEGASIAN WEWENANG, SENTRALISASI DAN DESENTRALISASI

BAB I
PENDELEGASIAN WEWENANG
1.1  Pengertian Pendelegasian Wewenang
Delegasi wewenang adalah proses dimana manajer mengalokasikan wewenang kepada bawahannya.
Delegasi adalah suatu pelimpahan wewenang dan tanggung jawab formal kepada orang lain untuk melaksanakan kegiatan tertentu.
Pendelegasian adalah pelimpahan kekuasaan, wewenang dan tanggung jawab kepada orang lain. Pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya rutinitas sebaiknya didelegasikan ke orang lain agar seorang manajer dapat menggunakan waktunya itu untuk melakukan tugasnya sebagai seorang manajer.

Berikut adalah definisi atau pengertian dari Delegasi oleh beberapa pakar :
·         Drs. H. Malayu S.P Hasibuan
Pendelegasian wewenang adalah memberikan sebagian pekerjaan atau wewenang oleh delegator kepada delegate (utusan) untuk dikerjakannya atas nama delegator.
·         Raplh C. Davis
Pendelegasian wewenang hanyalah tahapan dari suatu proses ketika kita menyerahkan wewenang, berfungsi melepaskan kedudukan dengan melaksanakan pertanggung jawaban.

  1.2      Macam-macam pandangan wewenang formal

Wewenang (authority)
Adalah hak untuk melakukan sesuatu atau memerintah orang lain untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu agar tercapai tujuan tertentu. Wewenang merupakan hasil delegasi atau pelimpahan wewenang dari atasan ke bawahan dalam suatu organisasi.Dua pandangan yang saling berlawanan tentang sumber wewenang, yaitu:
   1.  Teori formal (pandangan klasik) Wewenang merupakan anugrah, ada karena seseorang diberi atau dilimpahi hal tersebut. Beranggapan bahwa wewenang berasal dari tingkat masyarakat yang tinggi. Jadi pandangan ini menelusuri sumber tertinggi dari wewenang ke atas sampai sumber terakhir, dimana untuk organisasi perusahaan adalah pemilik atau pemegang saham.
    2.   Teori penerimaan (acceptance theory of authority)
Wewenang timbul hanya jika dapat diterima oleh kelompok atau individu kepada siapa wewenang tersebut dijalankan. Pandangan ini menyatakan kunci dasar wewenang oleh yang dipengaruhi (influencee) bukan yang mempengaruhi (influencer). Jadi, wewenang tergantung pada penerima (receiver), yang memutuskan untuk menerima atau menolak.
Kekuasaan sering dicampur adukkan dengan wewenang, padahal keduanya berbeda. Bila wewenang adalah hak untuk melakukan sesuatu, maka kekuasaan adalah kemampuan untuk melakukan hak tersebut.
Kekuasaan adalah kemampuan untuk mempengaruhi individu, kelompok, keputusan atau kejadian. Wewenang tanpa kekuasaan atau kekuasaan tanpa wewenang akan menyebabkan konflik dalam organisasi.

Wewenang Lini (line authority)
adalah wewenang dimana atasan melakukannya atas bawahannya langsung. Yaitu atasan langsung memberi wewenang kepada bawahannya, wujudnya dalam wewenang perintah dan tercermin sebagai rantai perintah yang diturunkan ke bawahan melalui tingkatan organisasi.
Wewenang Staf (staff authority)
 adalah hak yang dipunyai oleh satuan-satuan staf atau para spesialis untuk menyarankan, memberi rekomendasi, atau konsultasi kepada personalia ini. Kualifikasi yang harus dipenuhi oleh orang yang duduk sebagai taf yaitu dengan menganalisa melalui metode kuisioner, metode observasi, metode wawancara atau dengan menggabungkan ketiganya
Ada 2 tipe staf :
  1. Staf pribadi , dibentuk untuk memberikan saran,bantuan dan jasa kepada seorang manajer (individual)
 2.  Staf spesialis, disebut sebagai “asisten pribadi” /”asisten staf” untuk memberikan saran,bantuan dan melayani seluruh lini dan unsur organisasi, disebut spesialis karena fungsinya sempit dan membutuhkan keahlian khusus

Wewenang Staf Fungsional (functional staff authority)
adalah hubungan terkuat yang dapat dimiliki staf dengan satuan-satuan lini

Keuntungan Wewenang Fungsional :
    1;  Pekerja dapat menarik keuntungan dari para ahli  dari berbagai bidang
Kerugian Wewenang Fungsional :
   2. Kemungkinan akan munculnya masalah perilaku organisasi yang dikaitkan dengan “melayani dua tuan”.
    3.Konsekuensinya muncul kecendrungan rival yang berkembang antar departemen

Sumber Konflik Lini-Staf
Faktor-faktor yang dapat menimbulkan berbagai konflik di antara departemen dan orang-orang lini dan staf :
  1.      Perbedaan umur dan pendidikan
  2.      Perbedaan tugas
  3.      Perbedaan sikap    
  4.      Perbedaan posisi

    1.3 POLA PENDELEGASIAN
Pola pendelegasian yang membawa hasil memiliki ciri-ciri khusus yang harus dipahami oleh setiap orang. Ciri-ciri khusus tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.
  1. Pendelegasian yang menghasilkan bukanlah pendelegasian pesuruh/babu "Jalankan ini, jalankan itu, lakukan ini, lakukan itu, dsb." Pendelegasian yang sebenarnya tidak berfokus pada prosedur- prosedur dan cara-cara yang digunakan, tetapi terarah kepada upaya pencapaian sasaran/target dan hasil-hasilnya. Prosedur dapat ditetapkan dalam polis/suatu ketentuan, tetapi cara/metode harus dicari sendiri dan dikembangkan oleh setiap pekerja.
  2. Pendelegasian yang menghasilkan adalah pendelegasian penatalayanan, yaitu pendelegasian yang berwawasan serta bertujuan melayani. Aspek-aspek pendelegasian ini dikemukakan di bawah ini.
            a.Fokus pendelegasian adalah hasil kerja yang diharapkan tercapai, dalam upaya menggapai sasaran/tujuan akhir dari organisasi.
          b.Pendelegasian dilaksanakan dengan sikap hormat yang didasarkan atas penghargaan dan kesadaran terhadap diri sendiri sebagai sesuatu yang "berharga", serta memerhatikan harga diri dan kehendak bebas orang lain, di mana setiap pekerja dipandang sebagai subjek, dan bukan objek kerja.
                  Pendelegasian yang menghasilkan melibatkan harapan-harapan yang meliputi bidang berikut.

    1.4.     Latar belakang dari digunakannya delegasi
Ada alasan delegasi itu diperlukan,di antaranya :
    1.  Memungkinkan atasan dapat mecapai lebih dari pada mereka menangani setiap tugas sendiri
    2. Agar organisasi dapat berfungsi lebih efisien
 .   3. Atasan dapat memusatkan tenaga kepada suatu tugas yang lebih diprioritaskan
     4.   Dapat keahlihan bawahan sebagai suatu alat pembelajaran dari kesalahan.
 .      5.Karena atsan tidak mempunyai kemampuan yang dibutuhkan dalam pembuatan keputusan.
   6.Pendelegasian memungkinkan manajer perawat mencapai hasil yang lebih baik dari pada semua kegiatan ditangani sendri.
     7.  Agar organisasi berjalan lebih efisien.
   8.Pendekatan memungkinkan manajer perawat dapat memusatkan perhatian terhadap tugas tugas prioritas yang lebih penting.
  9.Dengan pendelegasian,memungkinkan bawahan untuk tumbuh dan berkembang,bahkan dapat dipergunakan sebagai bahan informasi untuk belajar dari kesalahan atau keberhasilan.
    1.5  Manfaat Pendelegasian Wewenang
 .   1. Manajer memiliki banyak kesempatan untuk mencari dan menerima peningkatan tanggungjawab dari tingkatan manajer yang  tinggi
    2.  Memberikan keputusan yang lebih baik
    3.   Pelimpahan yang efektif mempercepat pembuatan keputusan
 . 4.Melatih bawahan memikul tanggungjawab, melakukan penilaian dan meningkatkan keyakinan diri serta kesediaan untuk berinisiatif
 1.6 Hambatan Terhadap Pendelegasian Yang Efektif
 Penyebab keengganan untuk mendelegasikan wewenang adalah :
    a.Perasaan tidak aman. Manajer enggan mengambil resiko untuk melimpahkan tugas atau mungkin takut kehilangan kekuasaan bila bawahannya terlalu baik melaksanakan tugas.
    b.Ketidak mampuan manajer. Sebagian manajer bisa sangat tak teratur dalam membuat perencanaan ke depan.
     c.Ketidak percayaan kepada bawahan
     d.Manajer merasa bahwa bawahan lebih senang tidak mempunyai hak pembuatan keputusan yang luas

   Penyebab keengganan untuk menerima pendelegasian wewenang adalah:
  a.       Perasaan tidak aman bagi bawahan untuk menghindari tanggungjawab dan resiko.
  b.      Bawahan takut dikritik atau dihukum karena membuat kesalahan.
  c.       Bawahan tidak mendapat cukup rangsangan untuk beban tanggungjawab tambahan.
  d.      Bawahan kurang peracaya diri dan merasa tertekan bila dilimpahi wewenang pembuatan keputusan yang lebih besar

.    1.7 Syarat Untuk Delegasi Yang Efektif
a.     Kesediaan manajer untuk memberi kebebasan kepada bawahan dalam melaksanakan tugas yang dilimpahkan.
b.      Komunikasi yang baik antara manajer dan bawahan.
c.  Meningkatkan kompleksitas tugas yang dilimpahkan dan derajat pelimpahan dalam suatu jangka waktu tertentu.

     1.8     Prinsip-prinsip klasik yang dapat dijadikan dasar untuk delegasi yang efektif adalah:
  1.      Prinsip Skalar
Menyatakan harus ada garis otoritas yang jelas yang menghubungkan tingkat paling tinggi dengan tingkat paling bawah. Garis otoritas yang jelas ini memudahkan anggota organisasi untuk megetahui:
a.kepada siapa dia dapat mendelegasikan
b.siapa yang dapat melimpahkan wewenang kepadanya
c.kepada siapa dia bertanggung jawab
Dalam proses penyusunan garis otoritas diperlukan kelengkapan pendelegasian wewenang, yaitu semua tugas yang diperlukan dibagi habis. Hal ini digunakan untuk menghindari:
a.gaps, yaitu tugas-tugas yang tidak ada penangung jawabnya
b.overlaps, yaitu tanggung jawab untuk satu tugas yang sama diberikan kepada lebih dari satu orang
c.splits, yaitu tanggung jawab atas tugas yang sama diberikan kepada lebih dari satu-satuan organisasi

  2.      Prinsip kesatuan perintah (unity of command)
Menyatakan setiap orang dalam organisasi harus melapor pada satu atasan. Melapor pada lebih dari satu orang akan menyulitkan seseorang untuk mengetahui kepada siapa ia harus bertanggung jawab dan perintah siapa yang harus diikuti. Bertanggung jawab kepada lebih dari satu atasan juga akan membuat bawahan dapat menghindari tanggungjawab atas pelaksanaan tugas yang jelek dengan alasan banyaknya tugas dari atasan lain.
  3.      Tanggungjawab, wewenang dan akuntabilitas
Ketika mendelegasikan pekerjaan, akan berguna jika kita selalu mengingat perbedaan penting antara konsep-konsep wewenang, tanggung jawab, dan akuntabilitas.
Tanggung jawab ( responsibility ) berarti bahwa seseorang diberikan satu tugas yang seharusnya ia kerjakan. Ketika mendelegasikan tanggung jawab atas suatu pekerjaan, manajer hendaknya mendelegasikan cukup wewenang kepada bawahan untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut. Wewenang, ingat kembali, berarti bahwa seseorang memiliki kekuasaan dan hak untuk mengambil keputusan, memberikan perintah, menggunakan sumber daya, dan melakukan hal-hal lain yang dibutuhkan untuk memenuhi tanggung jawabnya, fronisnya, cukup lazim bagi seseorang untuk memiliki tanggung jawab lebih bayak daripada wewenagnya; mereka harus memberikan kinerja sebaik mungkin melalui taktik-taktik pengaruh secara informal sebagai ganti dari mengandalkan diri sepenuhnya pada wewenang.
Ketika manajer mendelegasikan tanggung jawab, bawahan akan dianggap bertanggung jawab atas pencapaian hasil. Akuntabilitas (Accountability) berarti bahwa manajer bawahan tersebut memiliki hak untuk mengharapkan bawahan melaksanakan pekerjaan, dan hak untuk mengambil tindakan perbaikan jika bawahan gagal untuk melaksanakannya. Bawahan harus memberikan laporan keatas mengenai status dan kualitas dari kinerjanya untuk tugas yang diberikan.


BAB II
SENTRALISASI DAN DESENTRALISASI

  2.1  Tantangan Desentralisasi
• Lingkungan kerja lebih kompleks, tidak pasti. Spt: karakteristik pasar, tekanan kompetitif, dan ketersediaan material
•   Manajer level bawah mampu dan berpengalaman dalam membuat keputusan
•    Manajer level bawah ingin bersuara dalam pembuatan keputusan
•    Keputusannya signifikan
•   Kultur perusahaan terbuka untuk memungkinkan para manajer bersuara tentang apa yang sedang terjadi
•    Perusahaan tersebar secara geografis
•  Implementasi efektif dari strategi perusahaan bergantung pada manajer yang terlibat dan fleksibel dalam membuat keputusan
•   Karakteristik lain dari organisasi, seperti biaya suatu keputusan, preferensi manajemen puncak, budaya organisasi, dan kemampuan manajer tingkat bawah

  2.2 Sentralisasi Versus Desentralisasi


A. Istilah dan Pengertian Sentralisasi :
Sentralisasi adalah memusatkan seluruh wewenang atas segala urusan yang menyangkut pemerintahan kepada tingkat pusat. Sentralisasi banyak digunakan pada pemerintahan lama di Indonesia sebelum adanya otonomi daerah.
Kelemahan
Kelemahan dari sistem sentralisasi adalah di mana seluruh keputusan dan kebijakan di daerah dihasilkan oleh orang-orang yang berada di pemerintah pusat, sehingga waktu yang diperlukan untuk memutuskan sesuatu menjadi lama.
Kelebihan
Kelebihan sistem ini adalah di mana pemerintah pusat tidak harus pusing-pusing pada permasalahan yang timbul akibat perbedaan pengambilan keputusan, karena seluluh keputusan dan kebijakan dikoordinir seluruhnya oleh pemerintah pusat. Bahkan pada zaman kerajaan, pemerintahan kolonial, maupun di zaman kemerdekaan.Istilah sentralisasi sendiri sering digunakan dalam kaitannya dengan kontrol terhadap kekuasaan dan lokasi yang berpusat pada satu titik.

Berikut ini, urusan- urusan yang bersifat sentral adalah :

• Luar Negri
• Peradilan

• Hankam
• Moneter dalam arti mencetak uang, menentukan nilai uang, dan sebagainya.
• Pemerintahan Umum

B. Istilah dan Pengertian Desentralisasi
Desentralisasi sebenarnya adalah istilah dalam keorganisasian yang secara sederhana di definisikan sebagai penyerahan kewenangan. Dalam kaitannya dengan sistem pemerintahan Indonesia, desentralisasi akhir-akhir ini seringkali dikaitkan dengan sistem pemerintahan karena dengan adanya desentralisasi sekarang menyebabkan perubahan paradigma pemerintahan di Indonesia
Desentralisasi di bidang pemerintahan adalah pelimpahan wewenang dari Pemerintah Pusat kepada satuan organisasi pemerintahan di wilayah untuk meyelenggarakan segenap kepentingan setempat dari sekelompok penduduk yang mendiami wilayah tersebut.
Dengan demikian, prakarsa, wewenang,dan tanggung jawab mengenai urusan yang diserahkan pusat menjadi tanggung jawab daerah , baik mengenai politik pelaksanaannya, perencanaan, dan pelaksanaannya maupun mengenai segi pembiayaannya. Perangkat pelaksananya adalah perangkat daerah itu sendiri.
Desentralisasi juga dapat diartikan sebagai pengalihan tanggung jawab, kewenangan, dan sumber-sumber daya (dana, manusia dll) dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah.
Menurut UU Nomor 5 Tahun 1974, desentralisasi adalah penyerahan urusan pemerintah dari pusat kepada daerah. Pelimpahan wewenang kepada Pemerintahan dapat memperbaiki serta meningkatkan efektifitas dan produktifitas suatu organisasi untuk mencapai suatu pemerintahan yang efisien. Namun kelemahan dari sistem desentralisasi pada otonomi khusus untuk daerah adalah euforia yang berlebihan di mana wewenang tersebut hanya mementingkat kepentingan golongan dan kelompok serta digunakan untuk mengeruk keuntungan pribadi atau oknum. Hal tersebut terjadi karena sulit untuk dikontrol oleh pemerintah di tingkat pusat.


Tujuan dari desentralisasi adalah :
• mencegah pemusatan keuangan;
• sebagai usaha pendemokrasian Pemerintah Daerah untuk mengikutsertakan rakyat bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan pemerintahan.
• Penyusunan program-program untuk perbaikan sosial ekonomi pada tingkat local sehingga dapat lebih realistis.
Desentralisasi dapat dilakukan melalui empat bentuk kegiatan utama, yaitu:
• Dekonsentrasi wewenang administratif
Dekonsentrasi berupa pergeseran volume pekerjaan dari departemen pusat kepada perwakilannya yang ada di daerah tanpa adanya penyerahan atau pelimpahan kewenangan untuk mengambil keputusan atau keleluasaan untuk membuat keputusan.
• Delegasi kepada penguasa otorita
Delegasi adalah pelimpahan pengambilan keputusan dan kewewenangan manajerial untuk melakukan tugas –tugas khusus kepada suatu organisasi yang secara langsung berada di bawah pengawasan pusat.
• Devolusi kepada pemerintah daerah
Devolusi adalah kondisi dimana pemerintah pusat membentuk unit-unit pemerintahan di luar pemerintah pusat dengan menyerahkan sebagian fungsi-fungsi tertentu kepada unit-unit itu untuk dilaksanakan secara mandiri. Devolusi adalah bentuk desentralisasi yang lebih ekstensif untuk merujuk pada situasi di mana pemerintah pusat mentransfer kewenangan kepada pemerintah daerah dalam hal pengambilan keputusan , keuangan dan manajemen.
• Pemindahan fungsi dari pemerintah kepada swasta
Yang di sebut sebagai pemindahan fungsi dari pemerintahan kepada swasta atau privatisasi adalah menyerahkan beberapa otoritas dalam perencanaan dan tanggung jawab admistrasi tertentu kepada organisasi swasta

2.3 Faktor – faktor yang mempengaruhi derajat desentralisasi adalah sebagai berikut :
1. Filsafat manajemen

2. Ukuran dan tingkat pertumbuhan ekonomi
3. Strategi dan lingkungan organisasi
4. Penyebaran geografis organisasi
5. Pengawasan yang efektif
6. Kualitas manajer
7. Keaneka – ragaman produk dan jasa
8. Karkteristik – karakteristik organisasi lainnya


Penyusunan Personalia Organisasi
Sumber daya terpenting suatu organisasi adalah sumber daya manusia – orang – orang yang memberikan tenaga, bakat, beraktivitas, dan usaha mereka kepada organisasi.

Penyusunan persoanlia adalah fungsi manajen yang berkenaan dengan penarikan, penempatan, pemberian latihan, dan pengembangan anggota-anggota organisasi. Kegiatan – kegiatan penyusunan personalia sangat eraat hubungannya dengan tugas – tugas kepemimpinan, motivasi, dan komunikasi sehingga pembahasannya sering ditempatkan sebagai bagian dari fungsi pengarahan.
Proses penyusunan personalia :
1. perencanaan sumber daya manusia
2. penarikan pengadaan calon – calon personalia
3. seleksi 
4. pengenalan orientasi
5. pelatihan dan pengembangan
6. penilaian pelaksaan kerja
7. pemberian balas jasa dan penghargaan
8. perencanaan dan pengembangan karir


Perencaan sumber daya manusia:

1. penentuan jabatan – jabatan yang harus diisis
2. pemahaman pasar tenaga kerja

3. pertimbangan kondisi, permintaan, dan penawaran karyawan

           JHA Logemann membagi desentralisasi menjadi dua macam, yaitu:
  .  1 .Dekonsentrasi atau desentralisasi jabatan, yaitu pelimpahan kekuasaan dari alat perlengkapan negara tingkatan lebih atas kepada bawahannya guna melancarkan tugas pemerintah. Misalnya, pelimpahan menteri kepada gubernur, dari gubernur kepada bupati/walikota, dan seterusnya secara berjenjang.
       2. Desentralisasi ketatanegaraan atau desentralisasi politik, yaitu pelimpahan kekuasaan perundangan dan pemerintahan kepada daerah-daerah otonom dalam lingkungannya. Dalam desentralisasi politik rakyat dengan menggunakan dan memanfaatkan saluran-saluran tertentu (perwakilan) ikut serta di dalam pemerintahan, dengan batas wilayah masing-masing. Desentralisasi ini dibedakan menjadi dua, yaitu:
     A. Desentralisasi Teritorial (Kewilayahan), yaitu penyerahan kekuasaan untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri (autonomie), batas pengaturannya adalah daerah. Desentralisasi teritorial mengakibatkan adanya otonomi pada daerah yang menerima penyerahan. Dimana daerah otonom tersebut dapat menentukan sendiri kebijakan daerahnya, kecuali kebijakan dalam bidang:
1.      Politik Luar Negeri          5. Moneter      
2.      Pertahanan                       6. Fiskal
3.      Keamanan                        7. Agama
4.      Peradilan                         


22.4  KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN DESENTRALISASI
Keuntungan Desentralisasi:
Menurut Smith (1985) dalam Hanif Nurcholis menjelaskan bahwa kebijakan desentralisasi ini memiliki keuntungan-keuntungan sebagai berikut:
·  Desentralisasi diterapkan dalam upaya pendidikan politik
·  Untuk latihan kepemimpinan politik
·  Untuk memelihara stabilitas politik
·  Untuk mencegah konsentrasi kekuasaan di pusat.
·  Untuk memperkuat akuntabilitas publik.
· Untuk meningkatkan kepekaan elit terhadap kebutuhan masyarakat lewat pendekatan pelayanan publik. 
Menurut Smith, keenam hal tersebut di atas bisa tercapai apabila administrasi pemerintah tertata dengan baik. Dalam rangka menyelenggarakan pemerintahan daerah diperlukan admininstrasi pemerintahan daerah yang respon dengan aspirasi dam kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu, dengan memahami system administrasi demikian pada tingkat daerah maka hubungan saling terkait antara semua komponen yang terdapat dalam administrasi pemerintahan daerah sebagai satu kesatuan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan semakin cepat tercapai. Hal ini sangat dibutuhkan kemitraan dari semua komponen darah.
     Berkaitan dengan keuntungan desentralisasi, Sarundajang mengemukakan beberapa keuntungan kebijakan desentralisasi  sebagai berikut:
1.  Mengurangi bertumpuknya pekerjaan di pusat pemerintahan
2.  Dalam menghadapi masalah yang amat mendesak membutuhkan tindakan yang lebih cepat
    sehingga daerah tidak perlu menunggu instruksi dari pemerintah pusat.
3. Dapat mengurangi birokrasi dalam arti yang buruk karena setiap keputusan dapat segera dilaksanakan.
·   Dalam system desentralisasi, dapat diadakan pembedaan dan pengkhususan yang berguna bagi kepentingan tertentu,yakni daerah dengan lebih mudah menyesuaikan diri dengan kebutuhan khusus daerah.
·    Dengan adanya desentralisasi territorial, daerah otonom dapat merupakan semacam laboratorium dalam hal-hal yang berhubungan dengan pemerintahan, yang dapat bermanfaat bagi seluruh wilayah negara. Hal yang baik diterapkan pada seluruh wilayah negara sedangkan yang kurang baik dibatasi pada daerah tertentu saja.
·      Mengurangi kemungkinan kesewenang-wenangan dari pemerintah pusat.
·     Dari segi psikologi, desentralisasi dapat lebih memberikan kewenangan memutuskan yang lebih besar kepada daerah.
·   Desentralisasi akan memperbaiki kualitas pelayanan karena lebih dekat dengan masyarakat yang dilayani. 
·         Sehubungan dengan pendapat ditarik kesimpulan bahwa desentralisasi membawa banyak keuntungan yang dapat membuat daearh lebih mandiri, kuat dan dapat menyelenggarakan pemerintahan dengan daya, inovatif dan kreativitas tinggi untuk mensejahterakan rakyat di daerahnya.

Kerugian Desentralisasi :

· Wewenang itu hanya menguntungkan pihak tertentu atau golongan serta dipergunakan untuk mengeruk keuntungan para oknum atau pribadi.
· Sulit dikontrol oleh pemerinah pusat.
· Masa transisi dari sistem sentralisasi ke desintralisasi ke memungkinkan terjadinya perubahan secara gradual dan tidak memadai serta jadwal pelaksanaan yang tergesa-gesa.
·  Kurang jelasnya pembatasan rinci kewenangan antara pemerintah pusat, propinsi dan daerah.
·  Kemampuan keuangan daerah yang terbatas.
·  Sumber daya manusia yang belum memadai.
·  Kapasitas manajemen daerah yang belum memadai.
·  Restrukturisasi kelembagaan daerah yang belum matang.
·  Pemerintah pusat secara psikologis kurang siap untuk kehilangan otoritasnya.
· Meningkatnya Keterbatasan kemampuan keuangan daerah dan masyarakat (orang tua) menjadikan jumlah anggaran belanja sekolah akan menurundari waktu sebelumnya,sehingga akan menurunkan motivasi dan kreatifitas tenaga kependidikan di sekolahuntuk melakukan pembaruan.
·   Biaya administrasi di sekolah meningkat karena prioritas anggarandi alokasikan untuk menutup biaya administrasi, dan sisanya baru didistribusikan ke sekolah.
·    Korupsi pemindahan ladang korupsi dari pusat kedaerah.
·   Konflik vertikel dan herizontan, misalnya dalam pelaksanaan pilkada .

Rabu, 03 Desember 2014

REVIEW JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI & AKUNTANSI


ABSTRAK
Perkembangan teknologi informasi membawa perubahan yang
signifikan dalam dunia bisnis. Ada berbagai macam sistem informasi
dengan menggunakan teknologi informasi yang muncul, antara lain
Data Processing Systems (DPS), Decision Support System (DSS),
 Management Information System (MIS), Executive Information 
Systems (EIS), Expert System (ES) dan Accounting Information
 System (AIS). Perkembangan teknologi informasi juga berpengaruh
 terhadap bidang akuntansi manajemen selaku bidang penghasil informasi
 dalam rangka perencanaan, pengendalian dan pengambilan keputusan
 manajemen. Pengaruh tersebut dapat bersifat menguntungkan
 maupun merugikan perusahaan.
1. PENDAHULUAN
Pada masa kini, sebagian besar masyarakat semakin merasakan informasi
sebagai salah satu kebutuhan pokok disamping kebutuhan akan sandang, pangan
dan papan. Seiring dengan hal itu, informasi telah berubah bentuk menjadi suatu
komoditi yang dapat diperdagangkan. Keadaan ini terbukti dengan semakin
berkembangnya bisnis pelayanan informasi, seperti stasiun televisi, surat kabar,
radio dan internet yang telah memasuki sendi-sendi kehidupan manusia. Perubahan
lingkungan yang pesat, dinamis dan luas tersebut didukung oleh kemajuan teknologi
informasi disegala bidang. Hal ini telah mendorong transformasi masyarakat
tradisional menjadi masyarakat informasi.
2. TEKNOLOGI INFORMASI & PERKEMBANGANNYA
Teknologi informasi muncul sebagai akibat semakin merebaknya globalisasi
dalam kehidupan organisasi, semakin kerasnya persaingan bisnis, semakin
singkatnya siklus hidup barang dan jasa yang ditawarkan, serta meningkatnya
tuntutan selera konsumen terhadap produk dan jasa yang ditawarkan. Untuk
mengantisipasi semua ini, perusahaan mencari terobosan baru dengan
memanfaatkan teknologi. Teknologi diharapkan dapat menjadi fasilitator dan
interpreter. Semula teknologi informasi digunakan hanya terbatas pada pemrosesan 
Pengaruh Perkembangan Teknologi Informasi Terhadap Bidang Akuntansi 
data. Dengan semakin berkembangnya teknologi informasi tersebut, hampir semua
aktivitas organisasi saat ini telah dimasuki oleh aplikasi dan otomatisasi teknologi informasi.
Teknologi informasi dapat didefinisikan sebagai perpaduan antara teknologi
komputer dan telekomunikasi dengan teknologi lainnya seperti perangkat keras,
perangkat lunak, database, teknologi jaringan, dan peralatan telekomunikasi
lainnya. Selanjutnya, teknologi informasi dipakai dalam sistem informasi organisasi
untuk menyediakan informasi bagi para pemakai dalam rangka pengambilan
keputusan.
Ada berbagai macam sistem informasi dengan menggunakan teknologi
informasi yang muncul, antara lain Electronic Data Processing Systems, Data
Processing Systems (DPS), Decision Support System (DSS), Management Information
System (MIS), Executive Information Systems (EIS), Expert System (ES) dan
Accounting Information System (AIS) Saluran komunikasi yang dapat digunakan untuk 
berkomunikasi adalah standard telephone lines, coaxial cable, fiber optics, microwave 
systems, communications satellites, cellular radio and telephone. 
EDP adalah penggunaan teknologi komputer untuk menyelenggarakan
pemrosesan data yang berorientasi pada transaksi organisasi. Sistem ini digunakan
untuk mengolah data transaksi yang sifatnya rutin (sehari-hari). 
MIS merupakan penggunaan teknologi komputer untuk menyediakan informasi
yang berorientasi pada manajemen level menengah. MIS mengakui adanya
kenyataan bahwa para manajer dalam suatu organisasi membutuhkan informasi
dalam rangka pengambilan keputusan dan bahwa sistem informasi berbasis
komputer dapat membantu penyediaan informasi bagi para manajer.
DSS adalah suatu sistem informasi yang datanya diproses dalam bentuk pembuatan 
keputusan bagi pemakai akhir. Karena berorientasi pada pemakai akhir,maka DSS
 membutuhkan penggunaan model-model keputusan dan database khusus yang berbeda 
dengan sistem DP. DSS dapat digunakan untuk menganalisis kondisi pasar sekarang atau 
pasar potensial. DSS juga dapat membantu mengubah proses bisnis, dimana umumnya 
manajer membuat semua keputusan, namun dengan adanya teknologi informasi seperti 
decision support tools, access database, dan modelling software, pengambilan  keputusan 
menjadi bagian setiap orang.
ES merupakan sistem informasi yang berbasis pada pengetahuan yang
menggunakan pengetahuan tentang bidang aplikasi khusus untuk menjalankan
kegiatan sebagai konsultan ahli bagi pemakai akhir. Seperti DSS, ES membutuhkan
penggunaan model-model keputusan manajemen dan database khusus Jika DSS
 membantu manajemen dalam rangka pengambilan keputusan, maka ES
membuat keputusan tersebut.
EIS merupakan suatu sistem informasi yang berkaitan dengan kebutuhan
manajemen puncak mengenai informasi strategik dalam proses pengambilan
keputusan strategik. Sedangkan AIS merupakan sebuah sistem yang menyediakan
informasi bersifat keuangan dan non keuangan bagi para pengambil keputusan.
Penggunaan teknologi informasi pada aktivitas perusahaan seperti pada value
chain dapat menghasilkan beberapa keuntungan, seperti penghematan biaya,
percepatan waktu operasi, peningkatan produktivitas, percepatan waktu pengiriman
barang dan jasa kepada pelanggan, serta peningkatan nilai barang dan jasa yang
tinggi pada pelanggan.
EDI adalah komunikasi antar komputer dengan tujuan meningkatkan efektivitas dan 
mengurangi pekerjaan yang sifatnya klerikal.
Hansen dan Hill (1989) mendefinisikan EDI sebagai pergerakan dokumen bisnis
dalam format terstruktur antara berbagai patner bisnis dalam suatu organisasi.
3. PENGARUH PERKEMBANGAN TEKNOLOGI INFORMASI TERHADAP
BIDANG AKUNTANSI 
Sistem informasi akuntansi  adalah sistem informasi yang memproses input sehingga 
menghasilkan output untuk mencapai tujuan. Proses adalah inti dari sistem informasi 
akuntansi . Proses dapat dijelaskan oleh aktivitas seperti pengumpulan, (collecting), 
pengukuran (measuring), penyimpanan (storing), analisis (analysis), pelaporan (reporting), 
dan pengelolaan (managing) informasi. Output yang dihasilkan dapat berupa laporan
khusus, biaya produksi, biaya pelanggan, anggaran, laporan kinerja, bahkan
komunikasi personal. Model operasional dari sistem informasi akuntansi manajemen
diilustrasikan pada Gambar 1.
Sistem informasi akuntansi  mempunyai tiga tujuan utama, yaitu (1)
untuk menyediakan informasi yang digunakan dalam perhitungan biaya jasa,
produk dan tujuan lain yang diinginkan manajemen, (2) untuk menyediakan
informasi yang digunakan dalam perencanaan, pengendalian, pengevaluasian, dan
perbaikan yang berkesinambungan, serta (3) untuk menyediakan informasi yang
berguna dalam pengambilan keputusan. Ketiga tujuan ini mengungkapkan bahwa manajer 
dan pengguna lainnya membutuhkan informasi akuntansi manajemen dan perlu mengetahui 
bagaimana cara menggunakannya.Pengaruh Perkembangan Teknologi Informasi Terhadap
 Bidang Akuntansi Informasi akuntansi dapat membantu  mengidentifikasikan
suatu masalah, menyelesaikan masalah, dan mengevaluasi kinerja. Informasi
akuntansi manajemen dibutuhkan dan digunakan dalam semua lingkup manajemen,
meliputi perencanaan, pengendalian dan pengambilan keputusan. Lebih jauh lagi,
kebutuhan akan informasi tidak terbatas pada organisasi manufaktur, tetapi juga
mencakup organisasi dagang dan jasa.
Operational Model: Management Accounting Information System
INPUTS OUTPUTS
USERS
PROCESSES
Collecting
Measuring
Storing
Analyzing
Reporting
Economics Events Managing
Special Reports
Product Costs
Customer Costs
Budget
Performance Reports
Personal Communication
Lingkungan ekonomi yang dihadapi banyak perusahaan dewasa ini telah
menuntut adanya pengembangan terhadap praktek-praktek akuntansi manajemen
yang inovatif dan relevan. Tekanan persaingan global telah mengubah lingkungan
ekonomi. Perubahan ini menyebabkan terciptanya lingkungan baru pada bidang
akuntansi manajemen, setidak-tidaknya untuk sejumlah besar organisasi. Karena
lingkungan berubah, maka akuntansi manajemen tradisional tidak digunakan lagi.
Faktor-faktor kunci perubahan ini adalah (1) orientasi kepada pelanggan, (2)
perspektif lintas fungsional, (3) persaingan global), (4) manajemen mutu total (TQM),
(5) waktu sebagai unsur kompetitif, (6) kemajuan dalam teknologi informasi, (7)
kemajuan lingkungan manufaktur, (8) pertumbuhan dan deregulasi dalam industri
jasa, dan (9) manajemen berdasarkan aktivitas (ABM).
Ada dua kemajuan yang signifikan berhubungan dengan teknologi informasi.
Yang pertama erat kaitannya dengan manufaktur yang terintegrasi dengan
komputer (Computer-Integrated Manufacturing = CIM). Dengan proses produksi
terotomatisasi, komputer digunakan untuk memonitor dan mengendalikan berbagai
operasi. Dengan penggunaan komputer, sejumlah besar informasi yang berguna
dapat dikumpulkan dan dilaporkan kepada manajer dengan segera. Apa yang sedang
terjadi di bagian produksi dapat diketahui dengan segera pula. biaya unit yang diproduksi, 
bahan yang digunakan, sisa, dan biaya produksi.Hasilnya adalah suatu sistem informasi yang 
secara terpadu mengintegrasikan data proses produksi dengan pemasaran dan akuntansi.
Otomatisasi tersebut dapat meningkatkan kuantitas dan kecepatan informasi.
Karena manajer memanfaatkan nilai sistem informasi yang lebih kompleks, maka
mereka harus memiliki akses data dari sistem dan mampu memilah serta
menganalisisnya secara cepat dan efisien. Di lain pihak, ini mengimplikasikan
bahwa alat-alat untuk analisis harus andal.
Kemajuan kedua adalah ketersediaan alat-alat yang dibutuhkan, seperti
ketersediaan komputer personal (PC), software, dan paket-paket grafis yang
memudahkan pengguna (user friendly). Komputer personal berfungsi sebagai
penghubung komunikasi ke sistem informasi perusahaan, sedangkan software dan
paket grafis memberikan manajer kemampuan analitis untuk menggunakan
informasi tersebut. Alat bantu PC dan software tersedia bagi manajer dari semua
jenis organisasi. PC dan software yang mudah pengoperasiannya memungkinkan
manajer melakukan lebih banyak analisis dan mengurangi ketergantungannya pada
departemen sistem informasi yang tersentralisasi. Jika sebuah PC juga bertindak
sebagai suatu terminal dan dihubungkan ke database organisasi, maka manajer
dapat mengakses informasi dengan cepat dan menyiapkan lebih banyak laporannya.
Akuntansi sekarang lebih fleksibel merespon kebutuhan untuk
aktivitas kalkulasi biaya produksi yang lebih kompleks. Selain itu, kemampuan
perhitungan yang cepat dewasa ini telah memungkinkan penyusunan laporan pada
saat dibutuhkan. Banyak perusahaan menemukan bahwa peningkatan daya respon
dari sistem informasi akuntansi manajemen kontemporer memungkinkan mereka
merealisasikan penghematan biaya secara berarti melalui penghapusan sejumlah
besar laporan bulanan internal.
Hansen dan Mowen (2000) menyatakan bahwa akuntansi  tidak
hanya dipengaruhi oleh lingkungannya, namun akuntansi  itu sendiri
dapat mempengaruhi perkembangan dalam organisasi, masyarakat, dan lingkungan
lainnya.
Beberapa trend yang berpengaruh pada bidang akuntansi  antara
lain adalah increasing requirement, advance informations technology, dan just in time
divercity. Perkembangan yang terjadi dalam akuntansi akibat kemajuan
teknologi informasi disebabkan oleh beberapa hal, yaitu customer orientation, total
quality management, time as competitive element, advances in the information
technology, advances in the manufacturing environment, service industry growth dan
global competition.
Akuntansi  harus mampu menghadapi tantangan perubahan
lingkungan sehingga dapat menghasilkan informasi yang sesuai dengan perubahan
teknologi manufaktur, teknologi sistem informasi dan persaingan global. Sistem
akuntansi manajemen harus mampu beradaptasi dengan kemajuan teknologi.
Selain itu, kemajuan teknologi membawa dampak terhadap perkembangan dunia
industri yang menuntut adanya kriteria penilaian kinerja perusahaan untuk
mencapai tujuan secara optimal. Kriteria tersebut menyebabkan bidang akuntansi
 untuk dapat menyajikan informasi yang dapat dipercaya, relevan, tepat
waktu, lengkap, dapat dipahami, dan teruji dalam rangka pengambilan keputusan,
baik strategik maupun taktis.Pengaruh Perkembangan Teknologi Informasi Terhadap
 Bidang Akuntansi 
Kemajuan teknologi informasi juga membawa dampak besar pada
perkembangan dalam paradigma maupun pada teknologi manufaktur. Beberapa
faktor akuntansi manajemen yang mendasar mengalami perubahan akibat
penggunaan teknologi informasi. Perubahan tersebut antara lain mencakup proses
perencanaan, pengendalian aktivitas rutin, struktur organisasi dan situasi kerja.
Dalam situasi dimana lingkungan berubah, maka rencana organisasi juga harus
berubah agar tetap bertahan dan keadaan organisasi tetap stabil. Organisasi yang
dihadapkan dengan perubahan lingkungan harus responsif jika tidak ingin
mengalami penurunan aktivitas yang tidak dapat dihindarkan. Kondisi ini
mengharuskan manajemen untuk selalu melakukan peningkatan yang inovatif
secara kontinu disegala aspek agar perusahaan dapat tetap bertahan dalam
persaingan yang sangat ketat, bahkan dapat memungkinkan perusahaan dapat
menjadi leading company.
Akuntansi  hendaknya memperhatikan aplikasi konsep-konsep  akuntansi yang tepat, 
serta teknik untuk menyajikan informasi keuangan yang berguna bagi manajemen dalam
 melakukan perencanaan,pengawasan, pengambilan keputusan, dan alokasi sumber daya yang
 paling ekonomis. Dengan mempertimbangkan kemampuan yang dimiliki, penerapan
teknologi informasi merupakan suatu tantangan bagi akuntansi  dalam menghadapi teknologi
 yang ada. Akuntan lah yang menentukan keputusan untuk menyesuaikan kemampuan
 teknologi informasi dengan kemampuan atau kapasitas perusahaan. Akuntan bertanggung 
jawab menciptakan iklim yang positif untuk melakukan perubahan didalam suatu
organisasi. Jelasnya, terdapat keuntungan bagi manajemen untuk mengaplikasikan
teknologi informasi. Teknologi informasi juga dapat memberikan kesempatan dan
mendukung perusahaan untuk mampu lebih berkompetisi dalam era globalisasi.
Pengertian kemampuan yang lebih kompetitif mengacu pada penyediaan fasilitas
untuk dapat bersaing melalui perbaikan mutu pelayanan.
Berikut ini adalah beberapa contoh implementasi teknologi informasi dalam
akuntansi manajemen. Penerapan EDI dalam Just In Time (JIT) menawarkan
pengendalian persediaan, mengarahkan orientasi pada kualitas dan efisiensi tenaga
kerja. EDI juga memberikan peluang pada akuntan manajemen dalam
meningkatkan kualitas yang berkaitan dengan production, shedulling, sales
forecasting, mempercepat internal response time, berhubungan secara lebih dekat
dengan pelanggan, dan membantu manajemen dalam meningkatkan pengendalian
aktivitas bisnis. Dalam Activity Based Costing (ABC), teknologi informasi dapat
diterapkan untuk mengolah informasi biaya sehingga dapat memberi kejelasan
mengenai sumber atau penyebab dari pos-pos biaya secara cepat dan terorganisasi.
Sedangkan dalam Total Quality Control (TQC), teknologi informasi dapat diterapkan
untuk melakukan perbaikan berkelanjutan sehingga memungkinkan menghasilkan
produk yang sempurna (zero-defect) dan mutu produk merupakan tanggung jawab
dari semua bagian. Perkembangan teknologi informasi dalam akuntansi manajemen
juga dapat menyediakan informasi tentang korelasi antara biaya dan waktu dengan
cepat dan relevan. Hal ini menjadikan manajer mampu merespon perubahan kondisi
pasar secara cepat dan tepat. Selain itu, penerapan manufacturing cell dapat
mempercepat waktu yang digunakan untuk produksi dan menurunkan biaya
produksi.
Munculnya Computer–Integrated Manufacturing (CIM) juga merupakan salah
satu bentuk penerapan teknologi informasi. CIM mengaplikasikan beberapa
kemampuan. Yang pertama, produk dirancang melalui pemanfaatan sistem
rancangan komputer (Computer-Assisted Design (CAD)). Yang kedua, rancangan
diuji dengan menggunakan sistem rekayasa komputer (Computer-Assisted
Engineering (CAE)). Yang ketiga, produk dibuat dengan menggunakan sistem
(Computer-Assisted Manufacture (CAM)). CAM menggunakan mesin dan robot yang
dikendalikan oleh komputer. Yang keempat, sistem informasi yang menghubungkan
berbagai macam komponen terotomatisasi. Salah satu ciri CAM adalah sistem
manufaktur yang fleksibel, yaitu sistem yang mampu membuat produk yang dimulai
dan diakhiri dengan menggunakan robot serta alat-alat otomatis yang dikendalikan
oleh komputer mainframe. Kemampuan menghasilkan berbagai produk yang sama
ini merupakan suatu keunggulan.
Tantangan bagi akuntan  lainnya adalah berupa tekanan luar yang
berasal dari partner dagang (internal pressure). Banyak perusahaan dan organisasi
yang menyadari bahwa mereka tidak dapat melanjutkan aktivitas usahanya bila
tidak bergabung dengan Information Technology Network. Perusahaan yang
ketinggalan dalam menerapkan teknologi informasi akan sulit berkomunikasi
dengan yang lain disamping tidak dapat bersaing. Sedangkan perusahaan yang
telah mengimplementasikan teknologi informasi merasa enggan untuk berhubungan
dengan perusahaan yang belum mengimplementasikan teknologi informasi.
Akuntan manajemen juga harus mempertimbangkan pesatnya perkembangan
teknologi informasi. Mereka harus mampu menyesuaikan tingkat perkembangan
perusahaan dengan tersedianya perangkat keras dan perangkat lunak yang ada.
Implementasi teknologi informasi harus mempertimbangkan bukan hanya biaya
investasi saja, melainkan juga biaya perawatan dan biaya operasi, termasuk biaya
tenaga ahli dan pemakaian jaringan pada pihak ketiga.
Akhirnya, dalam mengadopsi dan mengimplementasikan teknologi informasi
harus juga disesuaikan dengan kultur atau budaya manusia secara umum. Jangan
sampai dalam mengadopsi dan mengimplementasikan teknologi informasi tersebut
hanya melihat dari sisi teknologinya saja tanpa mempertimbangkan konteks sosial
dan kultur di negara asal yang kondisinya jauh berbeda. Dari gambaran diatas,
terdapat suatu fenomena yang menarik, yaitu sistem informasi dan teknologi yang
canggih akan memberikan peluang untuk membuat organisasi lebih hidup.
4. BERBAGAI MASALAH YANG TIMBUL AKIBAT PERKEMBANGAN
TEKNOLOGI INFORMASI DAN CARA MENGATASINYA
Perkembangan teknologi informasi disatu sisi menguntungkan akuntansi
manajemen. Tetapi disisi lain dapat menimbulkan beberapa masalah. Bahkan
teknologi informasi merupakan salah satu penyebab adanya tekanan bisnis pada
organisasi. Permasalahan yang timbul akibat perkembangan teknologi informasi
adalah sebagai berikut:
a. Untuk menerapkan teknologi informasi dalam perusahaan memerlukan biaya
yang besar.Pengaruh Perkembangan Teknologi Informasi Terhadap Bidang Akuntansi Manajemen
b. Pengembangan teknologi informasi tidak hanya membutuhkan pengetahuan dan
kemampuan teknis di bidang akuntansi saja, tetapi pengetahuan tentang
teknologi informasi juga harus dikembangkan. Hal ini berkaitan dengan masalah
information literacy yang perlu ditingkatkan agar pemanfaatan teknologi
informasi dapat dioptimalkan. Pengetahuan mengenai teknologi informasi bukan
sekedar pengetahuan secara teknis, akan tetapi lebih pada kekuatannya secara
strategis.
c. Teknologi informasi yang diterapkan tersebut harus acceptable, artinya dapat
diterima oleh semua orang yang akan menggunakannya. Jika perkembangan
teknologi tidak acceptable, maka dapat menimbulkan perilaku yang tidak
diharapkan seperti resistance to change (penolakan terhadap perubahan).
Resistance to change muncul karena tidak semua orang mudah menerima
perubahan dan menganggap bahwa adanya perubahan berarti hambatan, bahkan
dapat merupakan ancaman. Resistance to change juga dapat timbul karena
kurangnya pengetahuan atau ketidakmampuan dalam mengoperasikan teknologi
informasi yang baru. Sebaliknya, bagi orang-orang yang dinamis, perkembangan
teknologi informasi merupakan dorongan untuk semakin mengembangkan diri.
Beberapa contoh anggapan bahwa perkembangan teknologi informasi merupakan
ancaman, yaitu seorang mandor yang merasa kedudukannya terancam jika pihak
manajemen memutuskan untuk menggunakan sistem pengawasan terpusat
dengan monitor kamera. Atau seorang manajer menganggap perubahan sebagai
ancaman bila wewenang dan kekuasaan yang dimilikinya menjadi berkurang
akibat penerapan teknologi informasi.
d. Perkembangan teknologi informasi menuntut semakin banyaknya keahlian yang
dimiliki oleh karyawan atau pekerja dalam organisasi. Oleh karena itu
pendidikan tambahan dan pelatihan sangat diperlukan untuk meningkatkan
pengetahuan dan ketrampilan dari karyawan atau pekerja.
e. Perkembangan teknologi informasi juga memungkinkan hilangnya kesempatan
kerja khususnya bagi karyawan tingkat bawah, karena teknologi informasi
tersebut dapat menjalankan tugas mereka. Teknologi informasi hanya
menciptakan kesempatan kerja baru bagi tenaga ahli atau individu yang benarbenar
memenuhi kualifikasi.
f. Dipihak lain ada yang beranggapan bahwa perkembangan teknologi informasi
dapat menimbulkan pemborosan, karena diperlukan biaya yang besar untuk
pengadaan peralatan-peralatan yang canggih yang diperlukan serta pengadaan
pelatihan bagi karyawan untuk meningkatkan pengetahuan dan keahlian yang
dimiliki.
g. Ada juga pihak yang tidak senang dengan kehadiran komputer yang dianggap
menjadikan mereka malas bekerja dan membosankan. Keadaan ini disebut
dengan functional fixaction (tidak bersedia menerima sesuatu yang baru
walaupun sesuatu yang baru itu lebih bermanfaat).
h. Dengan semakin canggihnya teknologi informasi maka memungkinkan
munculnya kejahatan-kejahatan teknologi informasi.
meningkatkan angka absensi, dan mengurangi motivasi atau pemogokan kerja
(Gordon, 1993). Untuk mencegah kondisi yang tidak diinginkan, Gordon
menyarankan agar anggota organisasi atau pekerja dilibatkan dalam pelaksanaan
tugas tertentu dan menciptakan lingkungan yang mendukung kualitas anggota
organisasi. Selain itu perlu memberikan kesadaran pada karyawan bahwa
penggunaan teknologi informasi dapat memberikan manfaat dalam jangka panjang
dan menunjukkan kelemahan sistem lama. Selanjutnya Gordon mengajukan
beberapa hal yang harus dilakukan untuk mengurangi resistance to change terhadap
perubahan implementasi teknologi informasi, antara lain communication,
educational program, evolusional change, employee involment, new policies and
procedures, staff change, temporary structure dan steering committee.
Untuk dapat memiliki keahlian dan kemampuan tentang teknologi informasi,
maka anggota organisasi perlu mendapatkan tambahan pendidikan dan pelatihan
serta pemberian ketrampilan-ketrampilan yang relevan.
Selain itu, sebelum pihak manajemen organisasi mengimplementasikan
teknologi informasi yang baru, mereka harus mempertimbangkan besarnya biaya
yang diperlukan dan manfaat yang akan diperoleh (cost – benefit analysis).
Teknologi informasi akan diterapkan apabila manfaat yang diperoleh dengan
menggunakan teknologi informasi lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan
untuk mengimplementasikan teknologi informasi. Hal ini disebut juga sebagai value
of information technology. Oleh karena itu, akuntan manajemen perlu
mempertimbangkannya dengan baik sebelum mengambil keputusan. Keamanan
harus senantiasa ditingkatkan, untuk menghindari penyalahgunaan teknologi
informasi. Misalnya dengan menyimpan komputer pada tempat yang aman, hanya
boleh digunakan oleh orang-orang tertentu yang berkepentingan, penggunaan
password, dan pembuatan access control matrix.
5. KESIMPULAN
Untuk mempertahankan kelangsungan hidup suatu organisasi, harus disadari
bahwa lingkungan usaha akan selalu berubah, termasuk teknologi informasi yang
juga mengalami perkembangan. Dengan berkembangnya teknologi informasi
mengakibatkan perubahan-perubahan dalam bidang akuntansi manajemen.
Akuntansi manajemen akan menyesuaikan dengan perkembangan kegiatan
perusahaan.
Kehadiran teknologi informasi memberikan banyak manfaat bagi perusahaan,
seperti mampu meringankan aktivitas bisnis yang kompleks serta menghasilkan
informasi yang dapat dipercaya, relevan, tepat waktu, lengkap, dapat dipahami, dan
teruji dalam rangka perencanaan, pengendalian dan pengambilan keputusan
manajemen. Selain itu efisiensi operasi perusahaan dan kinerja perusahaan juga
dapat ditingkatkan. Akibatnya perusahaan dapat tetap bertahan dalam era
informasi serta mampu menghadapi persaingan pasar global.
Selain menghasilkan manfaat, perkembangan teknologi informasi juga dapat
menimbulkan beberapa dampak negatif bagi perusahaan, seperti tertutupnya
kesempatan kerja, timbulnya resistance to change serta timbulnya kejahatankejahatan
teknologi informasi yang dapat merugikan perusahaan.Pengaruh Perkembangan Teknologi Informasi Terhadap Bidang Akuntansi.