Nama: Marsa Salsabila
Npm: 26214423
Kelas: 1EB38
Kisah Sukses Suharti ( Delisa ) dalam Bisnis Sepatu

Meski hanya
terletak di bagian paling bawah, sepatu tidak hanya menjadi pelindung atau alas
kaki semata, tetapi telah berubah fungsi sebagai salah satu fashion yang
menunjang penampilan.
Sebagai
produk fashion, sepatu yang menonjolkan desain stylish dan ekslusif yang
dibuat secara handmade menjadi salah satu pilihan yang mendapat tempat
tersendiri di hati para pecinta sepatu.
Kondisi
tersebut menginspirasi Suharti memproduksi sepatu sport handmade pada 2004 lalu. Sebetulnya, keputusan wanita
kelahiran 27 Desember 1974 ini terjun dalam dunia bisnis berawal dari
meninggalnya seorang suami yang sudah merintis bisnis sepatu ini dari awal.
Akhirnya, Suharti
berpikir untuk meneruskan usaha almarhum suaminya yang merintis bisnis sepatu
ini sejak awal. Kegemaran terhadap berbagai jenis sepatu, memantapkan
keputusannya berkecimpung dalam bisnis sepatu.
Bermodal
Rp150 juta, wanita berdarah Jawa ini memulai debutnya dengan memproduksi
sekitar 500 pasang sepatu dengan proses
pembuatan di Tanggerang.
Selain itu,
dia juga melihat bahwa masyarakat indonesia mulai menyukai produk sepatu sport handmade yang menampilkan desain ekslusif di tengah
gempuran sepatu-sepatu branded pabrikan lainnya.
Untuk
membedakan dari brand sepatu lainnya, Suharti menunjukan ciri khas Indonesia
dengan nuansa classic dan trandy agar masyarakat bisa meyukai dan laku di
pasaran.
Sepatu yang
di jual tidak kalah dengan buatan pabrikan karena sepatu itu sudah di
pilah-pilah mana yang pantas buat di pasarkan dan yang tidak pantas buat di
pasarkan di masyarakat.
Kisaran
harga yang dibanderol untuk sepatu sekitar Rp100.000 hingga Rp600.000, adapun sepatu
kualitas yang rumit pekerjaannya seharga Rp190.000 hingga Rp850.000.

Suharti memproduksi sepatu-sepatunya secara handmade,
seluruh proses produksi dikerjakan dengan tangan sehingga menghasilkan produk
yang lebih mendetail, kuat, dan nyaman. Desain yang dihasilkan pun lebih
ekslusif karena tidak diproduksi secara massal.
“Dari
kacamata bisnis, industri kreatif yang diproduksi secara handmade memiliki masa
depan besar karena mempunyai nilai tambah yang lebih ekslusif serta tingkat
kenyamanan yang lebih terjaga,” ucapnya.
Menurutnya,
kualitas menjadi hal paling penting yang harus dijaga pada setiap produk sepatu
yang di pasarkan. Untuk itu, sebelum di pasarkan, Suharti harus melakukan quality
control. Agar lebih memudahkan dan meningkatkan kualitas produk sepatunya,
dia pun membuka workshop sendiri di kawasan Bojong Tangerang.
Hasil
produksinya kini tidak hanya dikenal oleh masyarakat Tangerang, tetapi telah
merambah ke jabodetabek, Kalimantan, Jawa, dan Papua. “Kami menjual secara online,
sehingga pemesanan sudah ada ke berbagai daerah.”
Suharti
mengatakan sebagai produk handmade yang menekankan desain serta
kenyamanan, keuntungan yang bisa didapatkan terbilang cukup tinggi. “Sebetulnya
tergantung bahan, tapi biasanya bisa di atas 70% karena yang dijual desain dan
ekslusifitas,” ucap dia.
Sayangnya,
sumber daya manusia menjadi kendala utama yang dihadapi para produsen sepatu handmade
sehingga kapasitas produksi yang mampu dibuatnya saat ini dalam sebulan hanya
sekitar 260 pasang.Keputusannya terjun ke bisnis sepatu berangkat dari kecintaannya
pada berbagai jenis sepatu.
Selama ini,
dia melihat hampir seluruh produk sepatu wanita yang ada di pasaran memiliki
jenis dan model yang sama. “Lalu saya berpikir untuk memproduksi sepatu dengan
ciri khas tersendiri.
Tak dinyana
penjualan yang dimulai secara online tersebut mendapat sambutan positif
dari pasar, terutama dari para pelanggan dari Surabaya, Jakarta, dan Bandung.
“Tanggapan positif karena kami menyuguhkan sesuatu yang baru yang bisa menjadi
pilihan alternatif sepatu, berbeda dari produk pasaran,” ucapnya.
Permintaan
pun semakin lama semakin bertambah sehingga 1 tahun usaha berjalan, Suharti
mulai membangun workshop sendiri. Penjualannya pun dibuat dengan sistem
distributor yang tersebar hampir di seluruh kota di Indonesia.
“Setiap 6 bulan sekali mengeluarkan desain
baru, kami juga melakukan review untuk desain yang menjadi best seller akan
dipertahankan, sementara yang kurang diminati akan diganti dengan desain baru,”
ucapnya.
Saat ini
kapasitas produksi mencapai 100 pasang perhari sehingga bisa menghasilkan
sekitar 3000 pasang sepatu perbulan. Harga yang dibanderol mulai dari Rp100.000
hingga Rp250.000. “Menjual sepatu pasti ada naik turunnya sehingga omzet pun
tidak menentu kira-kira perbulan berkisar antara Rp100 juta hingga Rp250 juta
dengan keuntungan bersih hingga 30%,” ujarnya.
Ibu dari 2
orang anak ini masih yakin prospek penjualan usaha sepatu handmade masih akan
tetap berprospek ke depannya sebab masih belum banyak kompetitor. “Asalkan kita
memiliki desain yang khas serta menjaga kualitas, maka akan bisa bersaing
dengan produk pasaran lainnya.”Dia melihat bisnis sepatu ini memiliki prospek
yang masih terbuka lebar mengingat semakin banyak penggemar sepatu sport.
Maaf mba. Ada kontaknya delisa sport engga ya? Kalo boleh saya minta. Thanks.
BalasHapus