UG

UG

Sabtu, 11 Oktober 2014

KISAH SUKSES



Nama: Marsa Salsabila
Npm: 26214423
Kelas: 1EB38


Kisah Sukses Suharti ( Delisa ) dalam Bisnis Sepatu


 Meski hanya terletak di bagian paling bawah, sepatu tidak hanya menjadi pelindung atau alas kaki semata, tetapi telah berubah fungsi sebagai salah satu fashion yang menunjang penampilan.
Sebagai produk fashion, sepatu yang menonjolkan desain stylish dan ekslusif yang dibuat secara handmade menjadi salah satu pilihan yang mendapat tempat tersendiri di hati para pecinta sepatu.
Kondisi tersebut menginspirasi Suharti memproduksi sepatu sport handmade  pada 2004 lalu. Sebetulnya, keputusan wanita kelahiran 27 Desember 1974 ini terjun dalam dunia bisnis berawal dari meninggalnya seorang suami yang sudah merintis bisnis sepatu ini dari awal.
Akhirnya, Suharti berpikir untuk meneruskan usaha almarhum suaminya yang merintis bisnis sepatu ini sejak awal. Kegemaran terhadap berbagai jenis sepatu, memantapkan keputusannya berkecimpung dalam bisnis sepatu.
Bermodal Rp150 juta, wanita berdarah Jawa ini memulai debutnya dengan memproduksi sekitar 500  pasang sepatu dengan proses pembuatan di Tanggerang.
Selain itu, dia juga melihat bahwa masyarakat indonesia mulai menyukai produk sepatu sport handmade  yang menampilkan desain ekslusif di tengah gempuran sepatu-sepatu branded pabrikan lainnya.
Untuk membedakan dari brand sepatu lainnya, Suharti menunjukan ciri khas Indonesia dengan nuansa classic dan trandy agar masyarakat bisa meyukai dan laku di pasaran.
Sepatu yang di jual tidak kalah dengan buatan pabrikan karena sepatu itu sudah di pilah-pilah mana yang pantas buat di pasarkan dan yang tidak pantas buat di pasarkan di masyarakat.
Kisaran harga yang dibanderol untuk sepatu sekitar Rp100.000 hingga Rp600.000, adapun sepatu kualitas yang rumit pekerjaannya seharga Rp190.000 hingga Rp850.000.
 


Suharti  memproduksi sepatu-sepatunya secara handmade, seluruh proses produksi dikerjakan dengan tangan sehingga menghasilkan produk yang lebih mendetail, kuat, dan nyaman. Desain yang dihasilkan pun lebih ekslusif karena tidak diproduksi secara massal.
“Dari kacamata bisnis, industri kreatif yang diproduksi secara handmade memiliki masa depan besar karena mempunyai nilai tambah yang lebih ekslusif serta tingkat kenyamanan yang lebih terjaga,” ucapnya.
Menurutnya, kualitas menjadi hal paling penting yang harus dijaga pada setiap produk sepatu yang di pasarkan. Untuk itu, sebelum di pasarkan, Suharti harus melakukan quality control. Agar lebih memudahkan dan meningkatkan kualitas produk sepatunya, dia pun membuka workshop sendiri di kawasan Bojong Tangerang.
Hasil produksinya kini tidak hanya dikenal oleh masyarakat Tangerang, tetapi telah merambah ke jabodetabek, Kalimantan, Jawa, dan Papua. “Kami menjual secara online, sehingga pemesanan sudah ada ke berbagai daerah.”
Suharti mengatakan sebagai produk handmade yang menekankan desain serta kenyamanan, keuntungan yang bisa didapatkan terbilang cukup tinggi. “Sebetulnya tergantung bahan, tapi biasanya bisa di atas 70% karena yang dijual desain dan ekslusifitas,” ucap dia.
Sayangnya, sumber daya manusia menjadi kendala utama yang dihadapi para produsen sepatu handmade sehingga kapasitas produksi yang mampu dibuatnya saat ini dalam sebulan hanya sekitar 260 pasang.Keputusannya terjun ke bisnis sepatu berangkat dari kecintaannya pada berbagai jenis sepatu.
Selama ini, dia melihat hampir seluruh produk sepatu wanita yang ada di pasaran memiliki jenis dan model yang sama. “Lalu saya berpikir untuk memproduksi sepatu dengan ciri khas tersendiri.
Tak dinyana penjualan yang dimulai secara online tersebut mendapat sambutan positif dari pasar, terutama dari para pelanggan dari Surabaya, Jakarta, dan Bandung. “Tanggapan positif karena kami menyuguhkan sesuatu yang baru yang bisa menjadi pilihan alternatif sepatu, berbeda dari produk pasaran,” ucapnya.
Permintaan pun semakin lama semakin bertambah sehingga 1 tahun usaha berjalan, Suharti mulai membangun workshop sendiri. Penjualannya pun dibuat dengan sistem distributor yang tersebar hampir di seluruh kota di Indonesia.
 “Setiap 6 bulan sekali mengeluarkan desain baru, kami juga melakukan review untuk desain yang menjadi best seller akan dipertahankan, sementara yang kurang diminati akan diganti dengan desain baru,” ucapnya.
Saat ini kapasitas produksi mencapai 100 pasang perhari sehingga bisa menghasilkan sekitar 3000 pasang sepatu perbulan. Harga yang dibanderol mulai dari Rp100.000 hingga Rp250.000. “Menjual sepatu pasti ada naik turunnya sehingga omzet pun tidak menentu kira-kira perbulan berkisar antara Rp100 juta hingga Rp250 juta dengan keuntungan bersih hingga 30%,” ujarnya.
Ibu dari 2 orang anak ini masih yakin prospek penjualan usaha sepatu handmade masih akan tetap berprospek ke depannya sebab masih belum banyak kompetitor. “Asalkan kita memiliki desain yang khas serta menjaga kualitas, maka akan bisa bersaing dengan produk pasaran lainnya.”Dia melihat bisnis sepatu ini memiliki prospek yang masih terbuka lebar mengingat semakin banyak penggemar sepatu sport.

1 komentar:

  1. Maaf mba. Ada kontaknya delisa sport engga ya? Kalo boleh saya minta. Thanks.

    BalasHapus